perbedaan kpr syariah dan kpr konvensional

Inilah Perbedaan KPR Syariah dan KPR Konvensional

Diposting pada

Inilah Perbedaan KPR Syariah dan KPR Konvensional – Kalau kamu berencana untuk membeli rumah Sebaiknya kamu harus membandingkan jenis kredit yang tepat dan sesuai dengan keinginan kamu. Baik KPR bank konvensional atau KPR bank syariah, keduanya memiliki kelebihan yang patut kamu ketahui.

Apa itu KPR Syariah?

KPR syariah merupakan produk pembiayaan perbankan yang berlandaskan prinsip syariah dan ditujukan untuk pembelian rumah atau hunian. Dasar hukum KPR syariah mengacu kepada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Selain itu, KPR syariah juga harus mengikuti sejumlah aturan fatwa dari Dewan Syariah Nasional Majelis Utama Indonesia (MUI).

Bentuk imbalan atau pengambilan keuntungan dalam KPR syariah, meliputi:

  • Profit margin: jika akad yang dipakai adalah murabahah atau jual beli
  • Jasa (ujrah / fee): jika akad yang dipakai adalah istishna’ atau pesan bangun.
  • Fee sewa: jika akad yang digunakan adalah ijarah muntahiyah bi tamlik (sewa beli)
  • Bagi hasil keuntungan: jika akad yang digunakan adalah musyarakah mutanaqishah

Apa Perbedaan KPR Syariah dan KPR Konvensional?

Mengenai Perbedaan KPR Syariah dan KPR Konvensional, ada beberapa perbedaan yang terlihat seperti akad, keuntungan, faktor persetujuan, sistem cicilan, jangka waktu cicilan, pinalti, dan denda.

Perbedaan yang pertama terlihat dari akadnya. Semua transaksi yang terjadi oleh bank syariah harus berdasarkan akad yang dibenarkan oleh Syariah Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist dan telah difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Adapun bank konvensional, surat perjanjian dibuat berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia.

Baca Juga : Keuntungan Beli Rumah KPR Syariah Dibanding KPR Konvensional

Selain itu, bank syariah menerapkan bagi hasil (mudharabah) dalam mendapatkan keuntungan. Sedangkan bank konvensional justru mengunakan konsep biaya bunga untuk menghitung keuntungannya.

skema operasional bank syariah vs bank konvensional

Untuk bank konvensional, keuntungan untuk bank adalah selisih bunga antara bunga yang diberikan kepada nasabah yang menabung di bank tersebut dengan bunga yang diminta dari peminjam dana.

Bank syariah juga akan menolak untuk menyalurkan kredit yang diinvestasikan pada kegiatan bisnis yang melanggar hukum Islam, seperti perniagaan barang haram, riba, perjudian dan bisnis manipulatif.

Berbeda dengan bank konvensional, bank ini masih dapat menyalurkan kredit selama debitur memenuhi kategori 5C (Character, Capacity, Capital, Condition, Collateral) dan tidak menyalahi hukum negara.

Salah satu perbedaan yang jelas antara bank kovensional dengan bank syariah yakni mengenai sistem cicilan. Bank konvensional menawarkan sistem bunga floating, artinya cicilan akan naik dan dipengaruhi oleh suku bunga Bank Indonesia (BI). Jika suku bunga BI mengalami kenaikan maka cicilan juga akan ikut naik dan begitu pula sebaliknya.

Berbeda dengan syariah yang menganut sistem margin (bagi hasil) dimana sudah ditentukan di awal kredit sampai dengan selesai. Oleh karena itu cicilan di bank syariah akan selalu tetap dari awal cicilan sampai dengan selesai.

Meski besar cicilan pada bank syariah selalu tetap, namun jika dibandingkan dengan besaran pinjaman bank konvensional, maka pada umumnya cicilan di bank konvensional pada periode awal akan lebih kecil dibandingkan bank syariah.

Sebagai gambaran, rata-rata suku bunga bank konvensional saat ini berada pada kisaran 9 – 11 persen. Sedangkan jika besaran cicilan syariah dikonversi ke suku bunga konvensional, maka nilainya akan setara dengan 13 – 14,5 persen.

Jika melakukan rujukan dengan angka, nasabah syariah memang membayar lebih mahal, tapi nasabah mendapatkan kepastian. Tapi bagi nasabah bank konvensional, cicilan di awal bisa lebih hemat. Namun bisa jadi cicilannya menjadi lebih besar atau juga lebih kecil dari cicilan bank syariah saat terjadi fluktuatif kondisi ekonomi.

Bank konvensional memberikan lama periode cicilan (tenor) bisa hingga 20 tahun – 25 tahun. Sedangkan pada bank syariah hanya bisa sampai 15 tahun.

Hal ini tentu akan berpengaruh pada besaran pinjaman yang diterima, bank konvensional akan memberikan pinjaman lebih besar dibandingkan jika anda meminjam kepada bank syariah.

Untuk pinalti, besaran pinalti konvensional biasanya berkisar di angka 1 persen dari nilai pokok hutang yang tersisa. Sedangkan pada bank syariah tidak akan dikenakan biaya pinalti. Sebaliknya pada saat mengalami keterlambatan pembayaran, baik bank konvensional maupun bank syariah akan mengenakan denda. Besaran denda di bank konvensional pada umumnya lebih kecil
daripada bank syariah.

Masing-masing pilihan memiliki kelemahan dan keunggulannya. Bagi yang ingin memiliki kepastian besaran cicilan dan terhindar dari resiko melonjaknya cicilan di waktu yang akan datang, maka syariah adalah solusi terbaik.

Sedangkan bagi yang memililki penghasilan terbatas sehingga membutuhkan tenor yang lebih lama agar bisa mendapat pinjaman yang lebih besar dan juga mendapatkan keringanan cicilan di tahap awal bisa memilih bank konvensional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.